Morfologi dan Anatomi Lumut Kelas Bryopsida

Lumut Kelas Bryopsida Lumut Daun

Lumut Kelas Bryopsida

Perbedaan lumut kelas bryopsida (lumut daun) dengan lumut hati terletak pada letak daun – daun yang selalu ada pada semua sisi sumbu utama. Itulah alasan mengapa lumut kelas bryopsida juga disebut sebagai lumut daun.

Gametofit terdiri dari :

» Protonema (benang yang bercabang banyak)
» Gametofora (batang dengan daun yang mengelilinginya)

PROTONEMA

Protonema lumut kelas bryopsida dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu :

Protonema primer, berasal dari perkembangan spora dan bersifat haploid.
Protonema sekunder, berasal dari jaringan vegetatif tumbuhan lumut ataupun dari perkembangan protonema primer.
Protonema tersier yaitu bila berasal dari perkembangan protonema sekunder.

Semua protonema kaya akan kloroplas sehingga disebut dengan kloronema. Pada umumnya protonema berumur pendek karena akan segera membetuk banyak cabang hingga terbentuk tumbuhan lumut berdaun yang baru.

GAMETOFORA

Gametofora umumnya terdiri atas batang, daun, dan risoid.

a. Batang

Panjang batang bervariasi begitu pula dengan bentuk batang : bentuk bulat, sedikit bersegitiga, bulat panjang, dan segi banyak. Pada umumnya batang tumbuh tegak, namun tetap ada pembagian batang berdasar cara tumbuhnya, yaitu:

  • Tegak (ortotrop) : pertumbuhan terbatas (acrocarp).
  • Mendatar (plagiotrop) : pertumbuhan tak terbatas (pleurocarp).

Umumnya anatomi batang lumut ini adalah :

  • Epidermis dengan sel – sel panjang dan berdinding tebal
  • Korteks, berupa jaringan parenkimatis dengan rongga antar sel
  • Silinder pusat

b. Daun

Umumnya terdiri dari 1 lapis sel, namun untuk ibu tulang daun/costa umumnya tersusun oleh beberapa lapis sel. Ukuran daun bervariasi. Sisi daun yang agak cekung dinamakan dengan sisi dalam (sisi ventral), sisi aksial disebut sisi bawah (sisi dorsal). Terdapat 3 susunan daun pada batang, yaitu:

  • Daun bawah, pada bagian basal batang
  • Daun tajuk tumbuhan (leaf blad), daun biasa
  • Daun atas, melindungi alat kelamin disebut daun perichaetal.

Kedudukan daun pada batang selalu spiral.

c. Gametangium

Androsium (kelamin jantan) terdiri dari beberapa anteridia yang dikelilingi oleh daun – daun perigonium dan parafisa. Sedangkan Ginaesium (kelamin betina) terdiri dari beberapa arkegonia yang dikelilingi daun – daun perichaetium. Di dalam perut Ginaesium terdapat sel telur.

d. Sporofit

Sporofit terdiri atas kaki, seta, dan kapsul. Kaki berfungsi sebagai haustorium (struktur pengambil zat – zat makanan). Pada kapsul (theca) terdapat spora, dan pada lubang bagian atas kotak spora dinamakan stoma dan disekitarnya terdapat gigi – gigi peristoma. Peristoma merupakan tonjolan yang berupa gigi atau rambut. Pada peristom yang terdiri atas 2 baris dibedakan eksostom (gigi luar) dan endostom (gigi dalam).

Berdasarkan ada tidaknya gigi teristoma :

  1. Clistocarpi : tidak mempunyai peristoma
  2. Stegocarpi : mempunyai peristoma

Gigi peristoma dapat bergerak secara higroskopis dengan gerakan menutup apabila udara lembab (sedikit angin untuk menerbangkan spora) dan gerakan membuka apabila udara kering (banyak angin untuk menerbangkan spora). Bagian antara kotak spora dan tutup kapsul (operculum) disebut dengan anulus (cincin). Pada jenis tertentu operculum tidak dijumpai.

e. Spora

Umumnya spora berupa sel tunggal dengan ukuran 1µ hingga 200µ, dan rata – rata 10-20 µ. Bentuk spora bermacam – macam : bulat, bulat memanjang, seperti ginjal, tetrahedris, dll. Dinding spora (sporodermis) terdiri atas :

» Lapisan dinding luar : eksospor (exine) yang terbuat dari chitine, berwarna kuning cokelat dengan penabalan hyalin.
» Lapisan dinding dalam : endospor (intine) yang terbuat dari selulose.

Perbedaan spora dengan pollen adalah pada tanggung jawabnya genetiknya untuk melakukan pembuahan. Spora tidak bertanggung jawab sedangkan pollen bertanggung jawab.

Sumber : Catatan kuliah Mata Kuliah Briologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada