Hati Itu Untuk Dipilih, Bukan Memilih

Love is Hallucinogen

Love is Hallucinogen

Teriknya matahari dan kebosanan yang melanda suasana hati membuatku ingin menuliskan sebuah hal yang sudah lama terpikirkan, sebenarnya. Hal yang selalu mengaburkan batas antara logika, kenyataan, harapan, dan khayalan. Aku menyebutnya dengan CINTA.

Cinta yang aku maksudkan di sini sudah sangat jelas, yaitu cinta antara hati anak adam yang satu dengan yang lainnya. Bukan sesuatu yang sangat urgent sebetulnya memikirkan hal seperti ini di tengah hiruk pikuk kehidupan yang begitu membelenggu. Namun, ini akan sangat diperlukan bagi setiap hati yang tersesat dalam perjalanan pencarian pasangannya. Mari saya terangi dengan sedikit rangkuman pengetahuan.

Allah Maha Pencipta. Allah swt menciptakan dunia ini dari sebuah materi yang tidak diketahui oleh siapapun makhluk di dunia ini (wallahualam). Namun tahukah kamu bahwa bahkan partikel terkecil penyusun alam semesta ini memiliki pasangan? Dalam ilmu fisika, pasangan partikel terkecil di alam semesta disebut sebagai SUPERPARTNER partikel dan teorinya disebut sebagai TEORI SUPERSIMETRI. Ketika ada materi yang dapat kita lihat di dunia ini, maka ada pula materi yang tidak dapat kita lihat, atau disebut dengan anti-materi (masih diteliti keberadaannya). Hal tersebut dipelajari secara mendalam di ilmu fisika. Kita tidak akan membahas itu terlalu jauh. Sumber klik di sini.

Semua sesuatu di alam semesta ini diciptakan secara berpasangan (wallahualam), hingga pada partikel terkecil penyusun alam semesta itu sendiri. Semua ciptaan dibentangkan dengan tingkat kesempurnaan akurasi yang tak terhingga oleh Allah swt dalam satu wadah lengkung (menurut Albert Einstein) yang kita ketahui sebagai dimensi ruang dan waktu. Mereka terbentang luas mengisi setiap ruang di alam semesta ini dan menempuh perjalanan bersama fungsi waktu. Materi-materi berpisah, berpencar, (mungkin) saling mencari, saling melengkapi, dan saling menyeimbangkan demi tata krama kelangsungan alam semesta. Begitu juga dengan manusia.

Manusia tidak lain dan tidak bukan merupakan salah satu pelengkap mangkuk ruang dan waktu yang diciptakan oleh Allah swt. Sama, kita diciptakan berpasang-pasangan. Spesies kita terhampar di seluruh muka planet biru ini. Tersebar dan terpisahkan. Ada yang terpisahkan dengan jarak yang sangat jauh, ada pula yang sangat dekat bahkan jauh lebih dekat dari jarak antara rumah kita ke tetangga depan rumah (alias samping rumah). Pada masing-masing jarak, ada keunikan tersendiri. Keunikan-keunikan itulah yang akan kita bahas.

Keunikan setiap pasang anak adam itu ada pada hatinya. Ada yang terpisah dalam jarak sangat jauh, namun tetap dapat bersatu seperti apapun medan yang mereka tempuh, entah terpikir atau tak pernah terpikir sebelumnya. Biasanya mereka tidak sadarkan diri ketika radar hati mereka mendadak sangat kuat yang menjadikannya tidak memiliki alasan untuk jatuh cinta atau tidak jatuh cinta. Ada lagi yang lebih menarik, sebenarnya jarak mereka betul-betul lebih dekat daripada harus berjalan kaki dari teras depan hingga belakang rumah, namun tidak pernah mengetahui. Salah satunya karena banyak yang menghalang-halangi kecocokan frekuensi hati antara dua sejoli. Bukan frekuensinya yang dihalangi, namun aksesnya. Contoh: cinta antara pembantu dan majikan.

Tersesat

Stray

Tersesat..

Bahasa tersesat mungkin tidak terlalu nyaman masuk telinga. Namun tenang, maksud tersesat di sini tidak selalu berkonotasi negatif. Ingat, kita hanya berbicara soal anugerah cinta yang agung, masalah hati, bukan bertujuan untuk mengeksplorasi privasi seseorang, pilihan hidupnya. Meskipun, sebenarnya bisa juga mengarah ke sana, namun bukan fokus tulisan ini.

Tidak jarang, hingga akhir hayatnya, seseorang belum juga menemukan atau bersanding dengan pasangan hidup yang telah ditentukan. Inilah dia yang aku maksud dengan tersesat. Banyak faktor yang mempengaruhi ketersesatan seseorang dalam pencarian satu tulang rusuknya. Namun semua itu berakar pada hatinya masing-masing. Apakah akan mendengar dan mengikuti apa yang dunia luar katakan sehingga harus menyerah dengan keadaan, atau akan menuruti kata hatinya. Hal seperti ini ada dalam novel tebal berjudul Shirat karya Riyanto el-Harist.

Aku pernah menonton sebuah film layar lebar Indonesia, yang di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat berharga tentang arti cinta. Di dalam film itu sangat ditekankan sebuah kutipan brilian mengenai cinta. Kurang lebih seperti ini:

Hati itu untuk dipilih, bukan memilih“. (Perahu Kertas karya Dee)

Mendengar kalimat itu, otakku langsung menyala bak mesin diesel yang ditarik tungkainya, mencoba memproses, menghayati, hingga pada akhirnya aku semakin tidak mengerti, “apa maksudnya?”. Namun tidak lama setelah membaca beberapa artikel yang berkaitan dengan pencarian asal-usul/awal mula alam semesta terbentuk, aku sedikit mendapat pencerahan. Intisari dari beberapa teori yang para ilmuwan kemukakan telah aku tuliskan di bagian awal artikel ini, bahwa semua materi di alam semesta ini tercipta berpasangan.

Kembali ke kutipan..

Membaca kutipan tadi, sangat mudah memahami kalimat “hati yang memilih”. Pada saat hati memilih pasangannya, saat itu pulalah segenggam hati memiliki segudang alasan untuk meninggalkan tempat persinggahan sementaranya. Hati yang memilih adalah hati yang menganggap bahwa untuk mencintai dia harus memiliki alasan. Bagaimana dengan hati yang dipilih?

Kamu mungkin bingung dan bisa jadi berpendapat: hati itu bisa dipilih karena ada hati lain yang memilih hati kita, berarti sama saja ada yang memilih, hanya masalah siapa yang memilih dan siapa yang dipilih. Jika memang begitu cara berpikirmu, itu benar. Tidak salah menurut logika. Kesalahannya hanya satu, kamu menerjemahkannya secara logis namun tidak mempertimbangkan posisi pencipta di dalam logika yang kamu pakai.

Hati itu untuk dipilih..

Cinta Sejati

True Love

Hati itu tidak memiliki alasan ketika dia harus kembali kepada pasangan yang telah diciptakanNya semenjak ia diturunkan ke dunia ini. Cintalah yang memilih hati. Coba baca kembali teori SUPERSIMETRI yang telah aku tulis di atas. Kita tercipta secara simetri, kita memiliki partner yang bertebar di muka bumi ini. Apa yang membuat kita tercipta simetri? Karena ada 1 dari sekian tak terbatas penciptaan Allah swt, yaitu CINTA. Cintalah yang memilih hati kita. Memang benar, akhirnya masalahnya ada pada siapa yang dipilih dan siapa yang memilih. Tapi sadarilah bahwa cinta itulah yang tidak masuk dalam kamus logika kita. Cinta itu telah ada dan berfungsi merekatkan kita dengan pasangan yang telah dijodohkan oleh Allah swt ketika kita diciptakan, sehingga kita simetri.

Ketika kita tidak memiliki alasan saat jatuh cinta kepada seseorang, ketika itulah kita bisa merasakan bahwa inilah hati yang dipilih. Hati tidak butuh alasan untuk mencintai seseorang, hati telah mengetahui ke mana dia harus berlabuh. Sejak diciptakan. (Merinding)

Cinta sebagai perekat..

True Love

Cinta Yang Menyinari

Sejak sebelum dijatuhkan ke dimensi ruang dan waktu, kita adalah makhluk yang simetri (ingat kita hanya membahas cinta), yang memiliki partner. Cintalah perekatnya. Tapi tidak hanya sampai di situ. Inilah yang membuat cinta semakin agung dari Sang Pencipta Yang Maha Agung: sadarkah kamu, cintalah yang membuat kita merasa hidup! Kenapa? Daya rekatnya tidak hilang biarpun kita saling terbentang satu sama lain! Dia yang membuai kita dengan harapan-harapan indah terbaik dalam menjalani hidup! Tanpa harapan, manusia hanyalah seonggok daging yang berjalan. Setuju?

Maka dari itu, sebenarnya pernikahan adalah hal paling agung dalam sejarah kehidupan manusia (setelah segala urusan yang mendahului). Lalu, apakah setiap orang itu selalu mendapatkan pernikahan dengan pasangan yang telah ditentukan oleh Allah swt? Bagaimana dengan orang yang nikah-cerai-kawin lagi, dan seterusnya?

Tidak semua orang bisa menikah dengan partner hidup bawaannya. Semua itu tergantung manajemen hati yang dilakukan. Apakah dia akan mengikuti kata hatinya atau sekedar mengikuti nafsu hidupnya? Bisa dijabarkan lebih panjang dan terinci dengan teori hati yang tertulis dalam buku Spiritual Excellence karya Nashir Fahmi.

Jawaban tersebut berlaku bagi pertanyaan kedua. Selain itu, pertanyaan ini bisa dijawab dengan melihat kehidupan seseorang setelah pernikahannya. Tanamkan di hatimu bahwa cinta adalah anugerah yang agung dari Yang Maha Agung. Jadi, setiap pernikahan yang beralaskan cinta sejati, pastilah akan tercermin dari kebahagiaan hidup yang menjalani dan senyawa kebaikan yang akan ditiupkan kepada lingkungan sekitar akibat pernikahan tersebut. Dunia akan menjadi lebih hidup dengan adanya pernikahan yang berlandaskan cinta sejati.

Sebenarnya masih ingin lanjut mengulas, tapi rasanya pengetahuan yang aku miliki sudah mentok. Jadi, terimakasih sudah membaca. Mohon maaf jika ada kesalahan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam!

8 thoughts on “Hati Itu Untuk Dipilih, Bukan Memilih

    • dinarardy says:

      @wie:
      Masih tersisa di luar sana banyak sekali orang yang belum menemukan arti cinta yang bahkan terkadang sudah merasa letih dan putus asa sebelum berjuang hingga akhirnya negatif thinking dan enggan mendengar kata cinta. Maka dengan penjelasan secara ilmiah diharapkan ada sebuah gambaran definitif tentang apa itu cinta. Aku meyakini bahwa segala yang terpapar di alam semesta ini ada penjelasan secara ilmiahnya, hanya manusia yang masih belum menemukan. Semoga setelah membaca artikel ini, cinta tidak lagi diterjemahkan sebagai sesuatu yang jauh dari artinya. Terimakasih atas kunjungannya🙂

  1. Bathmate says:

    I was suggested this web site by my cousin. I’m not sure whether this post is written by him as nobody else know such detailed about my trouble. You’re amazing!
    Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s