Jakarta-Rumahku, Semua Rasa Jadi Satu

image

Selamat pagi semuanya.. Lama sudah tulisanku tak menjamah blog ini. Blog tempatku berbagi tentang semua hal. Ini pun aku menulis lewat handphone sambil duduk sejenak menunggu datangnya Malaikat Cinta yang akan menemaniku pulang ke Rumah.

Kenapa aku bilang semua rasa menjadi satu? Ini penting untuk dijelaskan, percayalah. Pertama, aku harus bangun sangat pagi untuk bisa naik KRL yang masih sepi menuju stasiun Senen. Kedua, saat aku kehilangan arah dan butuh info, hampir setiap orang yang kutanyai masih teler karena nyawanya belum komplit. Ketiga, aku bertemu pak satpam berkumis belah tengah usai turun dari KRL sesampainya di stasiun Senen, tatapan beliau sangat dingin. Pagi yang dingin jadi makin dingin. Ketiga hal itu cukup menjadikan smua rasa campur aduk menjadi satu. Tapi.. guys, bukan, bukan tiga hal tak jelas itu yang membuat campur adul perasaanku!

Sesungguhnya semua rasa ini menjadi satu karena aku akan pulang dengan kekasih hatiku. Ini pertama kali aku pulang ke Rumah (orang tuaku) bersamanya. Dan, bisa jadi kepulangan ini tak akan lagi bisa kunikmati sesering jika aku masih berada di kota metropoltan, Jakarta. Aku pulang untuk menikmati suasana Rumah sepuas mungkin. Sebelum kerinduan tak kan mudah melepaskan diriku dari bayang-bayang orang tua, saudara, dan tentunya kekasih hatiku, Malaikat Cinta.

Sepertinya, aku harus menghirup suasana rumah sampai kembung.

Malaikat Cinta, itulah sebutanku untuk dia yang terkasih. Yang akan membekaliku dengan lautan rindu di dalam hati saat keberangkatanku nanti, dua minggu lagi. Kepulangan ini sesungguhnya hanyalah kamuflase kesedihan yang berbalut senyum. Senyuman yang tak kan lagi terbelai oleh sentuh lembut jemari bidadari hati.

Di satu sisi, aku sangat bahagia bisa pulang dengannya, menikmati setiap canda dan tawa yang hangat di antara indah pemandangan sawah dan pegunungan sepanjang jalan pulang. Ini akan menjadi momen sangat langka sejenak lagi. Di sisi lain, kata “sejenak lagi” barusan membuat pikiranku terlempar ke masa beberapa minggu ke depan, saat aku harus pergi, memenuhi tanggung jawab. Yang, percayalah, ini smua aku lakukan deminya. Demi dirimu, Malaikat Cinta. Tapi tetap, ini berat di sana tanpamu.

Cepatlah lengkapi aku, sayang..

Sebentar lagi Malaikat Cinta sampai di tempatku menunggu. Kalau begitu sampai jumpa lagi di tulisanku berikutnya yang mungkin tak kan selesai sampai tuntas. Seperti tulisan ini, hehe. Oh iya, aku akan makin rajin menulis, sepertinya, untuk menceritakan kisah di pulau seberang. Dari tempat wisata, kuliner, pekerjaan, hingga kerinduan yang berujung entah. Pokoknya asik! (Aamiin..)

Doakan kami selamat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s