Refleksi Pagi: Melihat Tumbuh Kembang Kedewasaan Dari Tulisan

Maturity (Kedewasaan)

Tiba-tiba saja terpikir untuk menulis di atas kanvas putih blog lamaku ini. Sudah cukup lama jemariku ini hening dalam kebisuan dan diam tanpa tarian, meloncat ke sana kemari menunangkan kata sambil mengupas makna.

Usai sholat Subuh, reflek saja, aku sudah terduduk di kursi depan meja belajarku. Meja belajar? Iya, meja belajar namanya. Hanya namanya saja, hehe. Ingin apa? I have no idea. Buka laptop saja kalau begitu. Coba menelusuri seluruh tulisan yang pernah aku unggah di blog ini. Sambil mengamati tentang gaya tulisan dari pertama kali hingga sekarang. Banyak berubah ternyata.

Bukan, awalnya aku tidak ingin melihat-lihat tulisanku dulu. Sangat membuang waktu, pikirku. Aku hanya ingin melakukan sedikit perubahan di rumah mayaku ini. Theme blog, ya, aku ingin merubah theme yang awalnya terkesan kurang sedap. Aku coba mencari theme yang sebelumnya, tapi sudah tidak ada, sepertinya sudah dihapus atau dikembangkan oleh authornya.

Scroll.. scroll.. ah belum ketemu juga theme yang mirip dengan sebelumnya. Apa aku sebaiknya ganti theme baru lagi? Boleh deh, kenapa tidak, yang penting nyaman untuk dibaca dan kolomnya tidak terlalu sempit. Kolom yang terlalu sempit membuat jari kita lelah karena terlalu sering menggulirkan halaman terus ke bawah. Scroll.. scroll.. ah ini dia, coba. Hm.. lumayan, tapi tunggu dulu, kita cari yang lain. Nah, ini lagi. Bandingkan. Hm.. masih bagus yang barusan. Ok, fix, aku pasang theme ini, yang sekarang sedang kamu baca. Bagaimana, kombinasi warnanya bagus ya? Sebetulnya ada pilihan untuk ubah-sesuaikan warna, tapi itu termasuk fitur komersil jadi.. yah.. begini saja sudah cukup.

Apa lagi ya yang mau diubah? Homepage (halaman muka)! Awalnya, homepage-nya tentang diriku, static homepage namanya. Sekarang kita ubah halaman awalnya supaya yang tampil adalah tulisan terakhir sehingga selalu terlihat perubahannya saat aku update. Nah, sudah. Tapi.. kok tampilannya satu artikel penuh, kan terlalu panjang nanti jika dalam satu halaman terpampang 4 artikel dengan masing-masing 800 karakter panjangnya. Ubah lagi ah biar yang tampil hanya beberapa paragraf awal dan sisanya tersembunyi dibalik tulisan “read more”.

Mencari referensi tentang merubah seluruh tulisan supaya tampil ringkasannya saja ternyata tidak mudah. Kebanyakan hanya memberi solusi dengan cara mengubah format penulisan per artikel. Huff.. akan lama sepertinya. Tapi, justru dari sinilah akhirnya aku membaca semua tulisan yang pernah aku buat. Dari awal? Ya, dari awal sampai akhir. Tidak semuanya juga sih.

Melihat tulisanku pertama kali, 2009, lalu beralih dari tahun ke tahun sesudahnya. Banyak perubahan gaya bahasa yang terjadi. Sempat cekikikan sendiri dan berpikir, ya ampun kok aku seperti itu ya dulu. Haha.. pernah mengalami hal serupa? Mungkin kalau kamu punya facebook yang sudah lama, lalu kamu baca tulisan kamu dari awal, bisa jadi akan mengalami hal serupa. Pada intinya mengamati tumbuh kembang kita melalui tulisan. Bisa? Tentu bisa.

Sekitar 2008-2010, itu adalah jaman tulisan yang dikombinasikan dengan angka, seperti “ter1m4k4s1h 5ud4h m3mb4c4“. Tapi aku belum pernah menulis seperti itu. .. eh .. kok ngeliatinnya seperti itu? B3n3r4n! #Lho? Kalau sekarang kita sebut itu sebagai tulisan alay, dulu sih belum ada istilah seperti itu. Sebetulnya tidak ada masalah dengan tulisan seperti itu asalkan tidak untuk menulis jawaban ujian, KTP, SIM, STNK, apalagi akta kelahiran.

Lalu beralih ke sekitar 2010-2012, di mana setiap kata yang sudah baku sering kali dimodifikasi sehingga semakin panjang, contohnya: “cemungudh eaa qaqaa” atau semakin pendek dan terkesan imut: “mucih ea, udh bca ne“. Biasanya ini dipraktekkan oleh kaum hawa. Kalau kaum adam sih tetap cool, paling di akun facebooknya diganti dengan “DHINAR SELALU BERSINAR (1)“.  Haha, kalau yang terakhir itu fiktif ya. Aku tidak pernah merasakan nikmatnya memodifikasi kata atau kalimat.

Kembali ke topik

Membaca hampir seluruh tulisanku di blog ini dari awal sampai akhir juga membuatku melihat adanya grafik perasaan yang tersirat. Di awal blog, aku seperti jiwa yang sangat bebas dan ekspresif. Tidak peduli dengan orang-orang yang akan membaca blog karena bagiku menulis adalah kebebasan yang tidak dapat diganggu gugat. Selain itu karena aku belum berhubungan dengan orang-orang yang selalu serius dalam memandang sebuah tulisan. Dan satu lagi, belum pernah mempercayai orang yang salah. Ya.. hidup seperti mengalir begitu saja dan selalu ada hal menarik yang menanti di siang nanti, malam nanti, atau hari esok. Tidak begitu peduli dengan pandangan, pemikiran, dan perasaan orang. Tanggungjawab juga masih kepada diri sendiri, pikirku. Aku sebut ini sebagai era “just the way I am” mutlak.

Semakin ke depan, banyak perubahan yang terjadi. Banyak faktor yang melatarbelakangi. Tulisan yang aku buat menjadi terasa dibatasi, antisipatif, dan penuh pertimbangan. Belum lagi, asmara yang datang dan pergi, yang hampir kesemuanya hanya manis di awal. Membuat jemariku semakin kaku untuk berkata-kata. Hal yang sulit untuk dipercaya saat semua kita jalani dengan penuh kejujuran namun di akhir segalanya berbalik arah menghujam kita.

Di atas itu semua, aku tetaplah berpegang kepada pendirianku. Tetap “just the way I am” untuk hal-hal yang menyangkut bagaimana aku menjalani kehidupan. Tidak lagi seperti dulu yang hanya berpikir bahwa hidupku hanya tanggung jawabku, tetapi juga untuk orang-orang yang menyayangiku, membesarkanku, memperhatikanku, menjaga janji dan kesetiaannya untukku, layak untuk kuperjuangkan, dan semua hal yang telah membuatku menjadi sebaik ini. Semakin banyak pertimbangan memang semestinya . Banyak orang menyebutnya dengan kedewasaan.

Kedewasaan selalu bertumbuh (idealnya) seiring dengan kehidupan yang dijalani oleh seseorang, lingkungan tempat orang itu berada, dan keterkaitan antara peran orang satu dengan yang lain. Kedewasaan dapat diamati dari pola pikir, cara menyikapi komitmen dan pengalaman, cara menjalani suatu hubungan, dan juga visi masa depan. Tidak juga dipungkiri, kedewasaan dapat diamati dari sebuah coretan yang kita sebut sebagai tulisan.

Theme-nya udah jadi, “read-more”nya udah berhasil, tulisannya juga udah kelar. Muucih ea udh b4c4.. #yahh kok?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s