Bahasa Kalbu, Sejujurnya Dirimu

Dua Kursi Hijau

Mengenai sebuah bahasa yang tidak dapat diganggu gugat atau dipungkiri bahkan oleh pemiliknya sendiri. Berbeda dengan bahasa yang kita ucapkan sehari-hari, yang bisa mengandung dualisme makna jika dipandangan dari perspektif yang berbeda. Bahasa ini unik, terkadang merepotkan, tapi lebih sering berujung indah.. 

Bahasa kalbu, jika ditinjau secara harfiah (terjemahan sendiri), bahasa adalah tentang sebuah alat yang kita gunakan untuk menyampaikan sesuatu maksud. Kalbu adalah hati, hati yang paling dalam, kurang lebihnya seperti itu. Emang ada hati yang dangkal? Ada, umumnya diderita oleh seseorang yang sangat sedikit memiliki rasa empati maupun simpati.

bahasa kalbu, bahasa kejujuran

Bahasa kalbu, sejujurnya dirimu. Benar, letak kejujuran diri kita ada pada bahasa kalbu yang terkadang tanpa kita sadari selalu mengganggu atau mengusik pikiran. Terutama berkaitan dengan perasaan yang dalam terhadap seseorang. Ada pepatah bijak mengatakan, “kamu bisa menutup mata untuk hal-hal yang tidak ingin kamu lihat, tapi kamu tidak bisa menutup hati untuk hal-hal yang tidak ingin kamu rasakan”. Setuju? Pasti.

Sepandai-pandainya kita menyembunyikan bahasa kalbu, tidak akan pernah sekalipun kita berhasil melakukannya. Justru, kita yang selalu diburu olehnya. Akibatnya, jiwa dan pikiran kita tidak akan pernah tenang kecuali mengikuti apa yang diinginkannya. Mudahya, ketika kita berkata tidak kepada orang yang mungkin telah menodai kepercayaan kita, bahasa kalbu terkadang berkata sebaliknya, menyuruh kita untuk bertahan dan melihat bahwa sesungguhnya akan ada sesuatu yang indah yang bisa kita temui jika kita bersabar nanti. Sebaliknya, sekuat apapun keinginan kita terhadap seseorang yang selalu mengumbar janji, hati kita akan berpendapat.. “waspadalah, ada bom waktu di dalamnya”.

Andai setiap orang memiliki kepekaan terhadap bahasa kalbu, tentulah tidak ada cerita menyedihkan yang berujung pada kisah tak sempurna untuk kita kenang (samsons, nyayi dulu..). Mengapa? Karena melalui kalbu atau hatilah sebetulnya Allah meniupkan petunjukNya. Hanya orang-orang yang dekat denganNya yang akan selalu berada dalam tuntunan dan jalan terbaik (seventeen, nyanyi lagi..).

Sesungguhnya, cukup dengan norma-norma kemanusiaan, seseorang tidak akan dengan mudah melukai sesama, terutama kekasih yang telah menaruh kepercayaan kepadanya. Rasa empati dan saling menyayangi akan membuat seseorang selalu dapat menempatkan diri pada posisi yang berlawanan. Tentunya, tidak akan dengan mudah merenggut setiap komitmen yang telah dijalin bersama, apalagi menjilat ludah sendiri. Jika semua itu tidak bekerja, barulah bahasa kalbu yang akan menuntunnya.

hati tidak pernah diam

Bahasa kalbu itu selalu ada. Mungkin kita hanya kurang peka. Atau, mendengar tetapi tidak peduli. Nah, orang-orang yang seperti inilah yang akan selalu dihantui oleh perasaan dan pikiran campur aduk. Mengapa? Karena antara keinginan yang sifatnya hanya nafsu sementara, ego buta, dan ambisi semata, akan selalu bertarung dengan suara hati yang lirih namun terus menerus. Tidak jarang, hal ini berlangsung seumur hidup yang berakibat pada penyesalan.

Tidak semua orang mampu mengingkari ucapan sendiri. Sama seperti tidak semua orang mampu memahami bahasa kalbunya sendiri. Bedanya, mengingkari ucapan sendiri disebabkan oleh kebiasaan atau pengalaman masa lalu yang menyebabkan hobi buruk ini. Sedangkan bahasa kalbu tidak diajarkan sama sekali dalam kehidupan, melainkan dirasakan direnungi dan dihayati, lalu ditindaklanjuti, bukan cuma sekedar lewat.

Barangsiapa yang melihat suatu penyelesaian masalah hanya dari kulit dan tampak eloknya, maka kemampuannya dalam merespon bahasa kalbu sangat diragukan sehingga rentan membuat keputusan yang sering tidak sesuai dengan apa yang menjadi komitmen awalnya. Di sisi lain, seseorang yang berpikir panjang akan lebih menghargai arti penting sebuah perjuangan bersama. Bagaimanapun, bersama kita bisa lakukan semua hal dengan lebih.. sempurna (andra n d’ backbone, nyanyi coda..).

Itu dia tulisan kali ini yang mengupas tuntas tentang sebuah bahasa yang tidak pernah kita pelajari di bangku TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, maupun bangku kosong #hiiy.. .

Jangan pernah memaksakan diri untuk menutup hati terhadap sesuatu yang tidak ingin kamu rasakan, dan jangan pernah pula mengingkari apa yang ada di dalam hati, kecuali kamu menyukai tantangan konsekuensi di masa mendatang.

Konsekuensi dan tantangan terdengar mirip, bedanya konsekuensi merupakan akibat dari sebuah keputusan spekulatif, sedangkan tantangan adalah sebuah ujian yang harus ditaklukkan untuk bisa naik peringkat menuju taraf hidup yang lebih berkualitas, misalnya menjalani hidup dengan sebaik-baiknya dalam sebuah perjuangan bersama. Untuk menutup tulisan ini, ada sebuah video berjudul “Bahasa Kalbu”.. semoga menyadarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s